KORANBURUH.COM, LABUAN BAJO - Kawasan wisata ikonik Bukit Silvia di Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), nyaris hangus dilalap si jago merah pada Kamis (11/6/2026) siang.

Kebakaran hebat yang melanda area perbukitan dekat Hotel Ayana tersebut berlangsung selama kurang lebih empat jam, mulai pukul 11.00 Wita, sebelum akhirnya berhasil dijinakkan total pada pukul 15.00 Wita.

Respons Cepat di Medan Terjal

Informasi kebakaran pertama kali diterima oleh petugas piket Polres Manggarai Barat sekitar pukul 11.15 Wita berdasarkan laporan langsung dari warga yang melihat kepulan asap tebal membumbung dari puncak bukit.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., menjelaskan bahwa personel gabungan langsung diterjunkan ke lokasi sesaat setelah laporan diterima guna mengantisipasi penyebaran api.

"Begitu menerima laporan dari warga sekitar pukul 11.15 Wita, kami langsung mengerahkan personel bersama armada Armored Water Canon (AWC) menuju tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran lahan," ujar AKBP Christian dalam keterangannya, Kamis malam.

Kapolres Mabar menambahkan, Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan kebakaran langsung diterapkan secara ketat demi menjamin keselamatan tim evakuasi di lapangan. Langkah ini krusial karena kondisi geografis lokasi yang menantang.

"Keselamatan personel dan lokalisasi api adalah prioritas utama kami, mengingat medan lereng tebing Bukit Silvia yang sangat terjal, berbatu, dan curam," tambahnya.

Sinergi Lintas Sektor Jinakkan Api

Upaya pemadaman ini menjadi bukti solidnya sinergitas lintas instansi di wilayah Manggarai Barat. Puluhan personel gabungan bahu-membahu melokalisasi kobaran api yang merambat cepat akibat embusan angin laut yang kencang dan kondisi ilalang yang kering kerontang.

Kekuatan armada yang dikerahkan meliputi satu unit kendaraan taktis AWC dari Polres Mabar, dua unit mobil pemadam kebakaran, satu unit mobil tangki air bersih dari Lanal Labuan Bajo, satu unit mobil tangki air swadaya, serta dibantu oleh karyawan Hotel Ayana Labuan Bajo.

Saksi mata di lokasi kejadian, Antonius (34), menuturkan ketegangan yang sempat terjadi saat angin kencang meniup lidah api mendekati batas luar area hotel.

"Tadi angin kencang sekali, api cepat merambat ke bawah bukit yang penuh rumput kering. Untung bapak-bapak dari Polres, TNI AL, Koramil dan Damkar cepat datang membawa mobil air raksasa (AWC). Kami warga di sini juga langsung membantu menarik selang air seadanya demi menyelamatkan bukit wisata kita," ungkap Antonius.

Berkat respons cepat ini, seluruh titik api utama berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 14.05 Wita. Petugas kemudian melanjutkan proses pendinginan (cooling down) untuk memastikan tidak ada bara api tersisa di bawah permukaan tanah yang berpotensi memicu kebakaran susulan.

Diduga Akibat Kelalaian Pengunjung

Meskipun sempat mencemaskan, pihak kepolisian memastikan bahwa peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka (nihil). Kebakaran ini juga berhasil disekat sebelum sempat merembet ke area komersial di sekitarnya.

AKBP Christian menjelaskan bahwa lokasi yang terbakar merupakan kawasan savana yang terletak tidak jauh dari Bandara Internasional Komodo, yang secara administratif mencakup area perbukitan di kawasan Bukit Amelia dan Bukit Silvia. Lokasi ini merupakan destinasi favorit yang kerap dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal dan olah TKP, kebakaran diduga kuat dipicu oleh faktor kelalaian manusia (human error).

"Hasil penyelidikan sementara menunjukkan adanya indikasi kelalaian pengunjung yang membuang puntung rokok dalam kondisi masih menyala secara sembarangan ke hamparan ilalang kering. Di tengah cuaca panas ekstrem seperti sekarang, tindakan sekecil itu sangat fatal dan langsung memicu kebakaran besar," katanya.

Dirinya pun mengimbau seluruh masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke destinasi super prioritas Labuan Bajo untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan demi keselamatan bersama.

"Imbauan kami kepada pengunjung, agar tidak membuang puntung rokok atau membuat api secara sembarangan yang bisa memicu terjadinya kebakaran. Mohon kerjasamanya, karena kebakaran ini tidak akan mungkin terjadi jika tidak ada api yang muncul akibat kelalaian manusia," tegas Kapolres Mabar. (Redaksi)

Published in Serba Serbi

KORANBURUH.COM, LABUAN BAJO - Citra Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super prioritas sekaligus magnet investasi internasional kini dipertaruhkan. Aktivitas pembangunan fasilitas penunjang Proyek Strategis Nasional (PSN) di kawasan Torobembe, Waecicu, lumpuh total akibat aksi premanisme berupa penutupan jalan secara sepihak.

Kondisi yang berlarut-larut ini memicu desakan kuat agar aparat penegak hukum mulai dari Polres Manggarai Barat, Polda NTT, hingga Mabes Polri untuk segera mengambil tindakan tegas demi menjamin kondusifnya iklim investasi di kawasan tersebut.

Mandek Sejak 2025, Di mana Ketegasan Polisi?

Kasus pemblokiran jalan umum yang sudah berfungsi sosial sejak tahun 2014 ini sebenarnya bukan perkara baru. Kuasa Hukum para Investor, Elyza Zainudin, S.H., mengungkapkan bahwa tindakan yang diduga kuat bermuatan premanisme ini telah dilaporkan secara resmi ke Polres Manggarai Barat sejak 1 Agustus 2025.

Namun, hingga pertengahan tahun 2026, penegakan hukum terkesan berjalan di tempat tanpa ada tindakan konkret di lapangan.

"Kasus penutupan jalan ini telah resmi dilaporkan ke pihak Polres Manggarai Barat sejak Agustus tahun lalu. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut yang konkret," ujar Elyza menyayangkan mandeknya proses hukum, Rabu (3/6).

Padahal, upaya persuasif dan mediasi tingkat daerah telah diupayakan. Pada 7 Februari 2025, sebuah pertemuan sempat digelar di Aula Kantor Bupati Manggarai Barat, namun jalan buntu tetap ditemui karena tidak adanya jaminan keamanan fisik di lapangan bagi para investor.

Taruhan Citra Nasional: Mengapa Mabes Polri Harus Turun Tangan?

Skala konflik di Torobembe ini bukan lagi sekadar urusan sengketa lokal. Mengingat kawasan ini masuk dalam blueprint Proyek Strategis Nasional (PSN), pembiaran terhadap aksi premanisme ini dapat mengirimkan sinyal buruk kepada investor domestik maupun global.

Belra Mordekhai Tuahta SM, S.H., yang juga merupakan Kuasa Hukum investor, menegaskan bahwa kerugian materiil dan non-materiil yang dialami pengusaha terus membengkak. Rencana pembangunan fasilitas penunjang pariwisata premium terpaksa mandek total.

"Para pengusaha sangat mengeluh karena aktivitas investasi di lokasi PSN menjadi terhambat akibat penutupan akses jalan oleh tindakan premanisme sekelompok orang," kata Belra.

Dalam perspektif investasi, kepastian hukum adalah modal utama. Ketika Polres lokal dirasa lamban, maka sudah menjadi kewajiban bagi Polda NTT dan Mabes Polri untuk melakukan supervisi atau bahkan mengambil alih penanganan perkara ini. Respons cepat korps Bhayangkara sangat dibutuhkan untuk membersihkan praktik premanisme yang menyandera pembangunan infrastruktur negara.

Mengembalikan Fungsi Sosial dan Ketertiban Umum

Langkah hukum yang ditempuh oleh para pemilik lahan dan investor saat ini murni dilakukan demi mengembalikan fungsi sosial jalan yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat lokal dan pelaku usaha.

"Para pemilik tanah yang juga pelaku usaha di sini telah melakukan berbagai upaya maksimal untuk pembukaan jalan tersebut. Langkah ini kami lakukan semata-mata demi menjamin ketertiban umum," tutup Belra.

Publik dan dunia usaha menanti sikap tegas Kapolres Manggarai Barat, Kapolda NTT, hingga Kapolri untuk segera membersihkan ego sektoral atau premanisme kelompok yang menghambat kemajuan pariwisata Labuan Bajo. Tanpa jaminan keamanan yang nyata, narasi Labuan Bajo sebagai "Bali Baru" yang ramah investasi hanya akan menjadi komoditas retorika belaka. (Redaksi/ HS)

 

Published in Hukum